Minggu, 10 Maret 2013

Chelsea Inginkan Pemain Indonesia

Ketua Eksekutif Chelsea, Ron Gourlay, berharap suatu saat nanti, dalam waktu yang tak terlalu lama, The Blues bisa memiliki pemain asal Indonesia. Ia juga menegaskan, pemain Indonesia itu bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pemain inti. Gourlay mengatakan hal itu menanggapi rencana kedatangan Chelsea ke Indonesia. 

Direncanakan, Chelsea akan melawan BNI Indonesia All Stars di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 25 Juli 2013. Ini akan menjadi pengalaman pertama bagi Chelsea datang ke Indonesia. Menurutnya, kehadiran timnya bukan melulu urusan bisnis, melainkan juga ada misi lain. "Kami memiliki program komunitas terbesar di seluruh Asia dan kami akan memperkenalkan program pertama Blue Pitch di Jakarta. 

Ini memberi kesempatan kepada para pelatih Chelsea untuk melatih para pemain muda dan juga menjadi kesempatan kepada kami untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat," ungkap Gourlay seperti dilansir Daily Mail. "Kami tak ingin hanya datang, bermain sepak bola, kemudian pergi. Kami ingin juga membantu para pemain muda di seluruh dunia. Harapannya, suatu hari nanti, dalam waktu yang tak terlalu lama, kami memiliki seorang pemain dari Indonesia yang bermain untuk tim utama," lanjutnya.

Jumat, 22 Februari 2013

Sepakbolanda: Ezra Walian dan Keziah Veendorp, Dua Keturunan Indonesia di Timnas Belanda

Dua pemain sepak bola yang memiliki ikatan darah dengan Indonesia, masuk seleksi timnas Belanda. Pelatih tim nasional Belanda sampai usia 16 tahun membawa tim untuk latih tanding di Portugal dari 6 sampai 13 Februari 2013.


Di antara 22 pemain pilihan yang dibawa oleh pelatih Ruud Dokter ke turnamen antara negara di Portugal adalah Ezra Walian dari Ajax Amsterdam dan Keziah Veendorp dari FC Groningan-Cambuur. Walaupun baru level U-16, Sepakbolanda sebagai pencinta sepak bola Indonesia merasa bangga juga. 


Pilih Garuda
Semoga kalau kelak mereka sudah dewasa dan menginjak usia 23, akan memilih memperkuat timnas Indonesia. Sebab pengalaman Ezra dan Keziah ini bisa berguna untuk meningkatkan daya saing Garuda. Persepakbolaan Indonesia, delapan tahun kedepan diharapkan juga sudah mulai kondusif.

Daftar nama lain timnas U-16 Belanda adalah Stan van Bladeren (Ajax), Yanick van Osch (PSV), Mauro Savastano (Ajax), Teun van Zweeden (Ajax), Hidde ter Avest (FC Twente Voetbalacademie), Melvin Kingsale (RJO Feyenoord/Excelsior), Calvin Verdonk (RJO Feyenoord/Excelsior), Jeffrey Neral (Sparta Rotterdam), Wellington Verloo (Vitesse/AGOVV), Abdelhak Nouri (Ajax), Danny van Haaren (RJO Feyenoord/Excelsior), Rick van der Meer (RJO Feyenoord/Excelsior), Rutger Etten (RVO FC Groningen/Cambuur), Marion Slabbekoorn (RJO Feyenoord/Excelsior), Laros Duarte (Sparta Rotterdam), Vince Gino Dekker (Ajax), Michael Breij (AZ), Anthony Berenstein (FC Utrecht), Martijn Berden (PSV) dan Dani van der Moot (PSV). 

Selama di Portugal tim ini akan melakoni laga lawan: 
 
(Sabtu 9 Februari)lawan Austria, 
(Ahad 10 Februari)dijajal Skotlandia, 
dan(Selasa 12 Februari) berhadapan tim tuan rumah Portugal.

Menurut pelatih Ruud Dokter, pertandingan segi empat ini penting karena tiga bakal lawan memilik gaya permainan yang berbeda. Perbedaan style ini bisa jadi ukuran yang baik tentang kekuatan timnas Oranje. Tujuan partisipasi ada turnamen ini adalah untuk mengukur kemampuan para pemain dan juga agar bakat-bakat muda ini bisa menimba pengalaman internasional.

Gavin Kwan Adsit, Mantan Pemain Timnas U16 Coba Tapaki Karir Profesional Di Eropa

Satu lagi pemain asal Indonesia yang mencoba untuk memulai karir sepakbola profesional di Eropa. Dia adalah Gavin Kwan Adsit, mantan pemain Tim Nasional Indonesia U16 yang saat ini bergabung dengan Genova International School of Soccer (GISS) di Italia.

Gavin Kwan Adsit lahir pada tanggal 5 April 1996 di Bali. Tumbuh dan besar di Bali, Gavin memulai bermain sepakbola sejak berusia 3 tahun dan bergabung dengan klub lokal setempat pada usia 7 tahun. Kegemaran Gavin pada sepakbola didukung penuh oleh seluruh anggota keluarganya yang juga penggila olah raga kulit bundar itu. Sang ayah bahkan sempat aktif bermain sepakbola semasa masih tinggal di Amerika Serikat.

Klub pertama pemain yang memiliki ibu asal Mojokerto serta ayah asal Amerika Serikat itu bernama Bali Bulldogs dimana mayoritas para pemainnya terdiri dari anak - anak keturunan Indonesia. Di klub itu, Gavin dilatih oleh Kenny Latham, mantan pemain Livepool pada awal 1990-an.

Pada usia 9 tahun, ia kemudian bergabung dengan Canggu Club All Stars yang dibentuk dan dilatih oleh pelatih asal Austria yang juga mantan asisten pelatih Tim Nasional Indonesia, Wolfgang Pikal. Di klub tersebut, Gavin serta beberapa anak lain diberikan beasiswa oleh Wolfgang yang pada saat itu belum menjadi bagian staff kepelatihan Tim Nasional Indonesia untuk dapat terus bermain dan berlatih di Canggu Club.

Di klub itu, Gavin serta pemain lain berlatih sebanyak empat kali dalam seminggu dan bertanding dalam sebuah kejuaraan mini setiap bulannya dimana ia kerap tampil sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik kejuaraan. Pada usia 12 tahun, Gavin kemudian dilatih oleh Musa Kallon yang menggantikan Wolfgang Pikal yang memutuskan untuk bergabung dengan Tim Nasional Indonesia. Selama empat tahun, ia dilatih oleh saudara kandung mantan pemain Internazionale Milano FC, Mohammed Kallon itu.

Gavin mulai mengikuti kejuaaran di luar negeri setelah terpilih menjadi bagian Tim Nasional U13 yang bertanding di Yamaha Cup. Di Tim Nasional U13, ia menjadi satu - satunya pemain asal Bali yang terpilih dan kemudian mengikuti Training Camp (TC) di Jakarta dan Bogor.

Saat berusia 14 tahun, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang atau sayap kanan itu mengikuti kejuaraan yang diselenggarakan oleh Lee Hakwins, mantan pemain Southampton FC yang juga menjabat sebagai direktur Asian Soccer Academy di kawasan Asia. Pada kejuaraan itu, Gavin memperoleh dua gelar pemain terbaik secara berturut - turut.

Dengan pencapaiannya tersebut, Lee Hawkins kemudian mengirim Gavin untuk bermain dan berlatih dengan klub Preston North End di Inggris selama satu bulan. Bersama klub itu, ia bermain menghadapi Manchester United di Carrington serta Everton di Finch Farm, markas klub asal kota Liverpool itu. Setelah satu bulan berada di Inggris, ia kemudian kembali ke Indonesia dan bermain untuk Persekaba Badung dan Perseden Denpasar.

Di klub asal Bali itu, ia mendapatkan kontak dengan Ganesha Putra, direktur akademi sepakbola Villa 2000. Setelahnya, sulung dari tiga bersaudara ini kemudian bermain di Garuda Cup serta Manchester United Premier Cup bersama Villa 2000.

Pada usia 15 tahun, Gavin mengikuti seleksi Milan Junior Camp di Bali dimana ia terpilih dalam 18 pemain yang berangkat untuk bertanding mengikuti kejuaraaan di Milan setelah melalui proses seleksi yang diikuti oleh sekitar 900 pemain. Setelah mengikuti beberapa kejuaraan baik nasional ataupun internasional, kualitasnya kemudian mulai dikenal dan dipantau oleh beberapa pelatih yang membuatnya terpilih untuk membela Tim Nasional U16 dan bertanding dalam kualifikasi Piala Asia yang digelar di Thailand.

Yang menonjol dari kualitas Gavin adalah tendangan keras serta kecerdasanya dalam menguasai bola sekaligus pergerakan tanpa bolanya. Ia juga merupakan seorang pemain dengan tipikal permainan sepakbola modern yang tidak terlalu lama menguasai bola dan rajin bergerak.

Pada awal tahun ini, ia kembali dipanggil untuk memperkuat Tim Nasional U17 yang turun bertanding di Hongkong International Youth Football Invitation Tournament, sayangnya pada saat itu ia tidak dapat bergabung dikarenakan tengah menghadapi ujian sekolah. Beberapa bulan berikutnya, ia bergabung dengan Timnas U17 yang melakukan ujicoba di Gorontalo dan Malaysia. Di Malaysia, ia menjadi salah satu pemain yang turut membawa Indonesia menumbangkan Tim Nasional Arab Saudi U17 dengan skor 2-1.

Beberapa minggu kemudian, Gavin kemudian memutuskan untuk terbang ke Milan dan bergabung dengan Genova International School of Soccer (GISS) yang bermarkas di Ovada. Bersama GISS, Gavin akan bergabung selama 3 bulan dan mengikuti beberapa trial dengan sejumlah klub yang ada di Eropa.

"Saya akan tinggal disini hingga 15 Desember mendatang, pemain muda yang ada disini mendapatkan kontrak dari seluruh Eropa, GISS akan mengirim pemain untuk mengikuti sejumlah trial dengan beberapa klub yang dipertimbangkan akan cocok dengan gaya bermain kamu serta kewarganegaraan pemain bersangkutan juga menjadi salah satu pertimbangan mereka," jelas Gavin.

"Karena saya tidak memiliki paspor Eropa sehingga saya tidak bisa bermain untuk klub asal Italia, Inggris atau sebagainya, akan tetapi saya dapat bermain di Hungaria, Romania dan negara - negara yang tidak termasuk dalam negara Uni Eropa. Bermain disana selama 12 bulan dan setelah memperoleh visa kerja, saya akan dapat bermain untuk tim manapun di Eropa," lanjutnya.

Di GISS, ia berlatih setiap hari selama dua kali atau terkadang tiga kali dan bertanding dalam sebuah ujicoba setiap minggunya. Salah satu pertandingan ujicoba yang telah ia jalani adalah saat ia bertanding menghadapi Juventus Academy dimana pada pertandingan ujicoba yang digelar di markas klub Juventus itu dimenangkan oleh GISS dengan skor 3-1.

"Pertandingan menghadapi Juventus adalah pengalaman bagus, kami menghadapi tim Juventus yang satu tahun lebih muda daripada kami, akan tetapi hal tersebut adalah tetap sebuah ujian. Pada hari Sabtu, kami akan bermain menghadapi tim Primavera Juventus, itu akan jadi pertandingan yang sulit. Tapi tidak terlalu penting nama atau logo klubnya, terkadang klub asal Serie B jauh lebih kuat dan lebih baik dari klub Serie A," ungkap Gavin.

Di Italia, ia juga menceritakan bagaimana ia dilatih sebagaimana layaknya seorang professional. Berat badan ditimbang setiap minggunya, tidak boleh mengkonsumsi makanan yang berasal dari luar, dan sebagainya.

Selain cita - citanya untuk dapat bermain secara profesional di Eropa, bermain untuk Tim Nasional Indonesia merupakan salah satu impian yang juga ingin ia raih.

"Itu akan jadi lebih dari sebuah kebanggaan untuk dapat mewakili Indonesia di level senior, secara khususnya saat saya melihat Indonesia memiliki peluang tampil di Piala Dunia nantinya. Saya mencintai Indonesia lebih dari negara manapun. Saya ingin melihat Indonesia tampil di Piala Dunia," pungkasnya.[indonesiatalent][vrp/SBI]

Rabu, 20 Februari 2013

Syamsir Alam di DC United

Ben Olsen belum menentukan pemain yang dikirim ke Richmond, dan menilai perkembangan Alam cukup bagus.




Pelatih DC United Ben Olsen menyatakan, gelandang muda Indonesia Syamsir Alam masih harus meningkatkan kecepatannya bila ingin menembus daftar pemain Black and Red di Liga Utama Amerika Serikat (MLS) 2013.

Alam disebut-sebut akan dikirim ke Richmond Kickers, tim Divisi Tiga yang berafiliasi dengan DC United. Hingga kini, Olsen belum memutuskan empat pemain yang akan dikirim ke klub tersebut.

“Kami sudah memikirkannya. Sekali kami sudah mendapatkan daftar pemain pasti dalam beberapa hari ke depan, kami akan membuat keputusan tentang Richmond,” ujar Olsen dilansir Washington Post.

“Penilaian terhadap gelandang Indonesia Syamsir Alam? Dia bagus.”

“Sebuah liga baru, itu akan membuat dia harus meluangkan waktu untuk meningkatkan kecepatannya. Secara teknik cukup bagus. Fisik rata-rata di liga kita menjadi sesuatu yang dia harus biasa hadapi.”

Jumat, 04 Januari 2013

Inilah Kiper Juventus Asal Indonesia Kelahiran Mataram NTB

Anda mungkin tidak menduga atau mungkin penasaran dengan judul artikel diatas.  Siapa yang menduga, penjaga gawang (kipper) Timnas U-16 Italia adalah pemain keturunan Indonesia dan lahir di Indonesia. Mendengar nama Emilio Audero Mulyadi, anda mungkin akan langsung merasa akrab dengan nama belakang yang dimiliki Emilio.
 
Dipanggil dengan nama Emil. Emilio Audero Mulyadi adalah kiper utama tim Juventus Allevi ( Juventus U-17). Usia baru 15 Tahun dan dianggap sebagai salah satu calon kiper masa depan Italia.

Emilio Audero Mulyadi
yang lahir di Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dua tahun yang lalu Emilio Audero Mulyadi masih menetap di Indonesia. Ayah Emilio Audero Mulyadi adalah Warga Negara Indonesia. Pejalanan karir sepakbola Emilio Audero Mulyadi dimulai ketika meninggalkan Indonesia dan mulai bergabung dengan salah satu klub terbesar di Italia, Juventus.


Emilio Audero Mulyadi mengikuti trial di Juventus dan mengikuti beberapa pertandingan yang dimainkan oleh Juventus Junior. Pihak Juventus tertarik dengan permainan Emilio Audero Mulyadi dan langsung mengundangnya untuk mengikuti sesi latihan di tim Juventus Allivi. Setelah merasa puas dengan performa yang ditampilkan, Juventus langsung mengontraknya sebagai pemain junior.

"Ketika saya bermain untuk salah satu klub di Italia, saya mengikuti beberapa kali training session dengan Juventus dan setelahnya Juventus mengatakan pada saya bahwa mereka tertarik pada saya dan tahun depan saya adalah pemain Juventus," ungkap Emilio Audero Mulyadi, seperti dilansir indonesiantalent.net.

"Benar saya lahir di Indonesia, akan tetapi saya tidak memiliki paspor Indonesia. Ayah saya orang Indonesia dan saya juga tinggal di Indonesia sekitar dua tahun lalu," lanjut pemain kelahiran Mataram 18 Januari 1997.

Emilio Audero Mulyadi
pun menceritakan tentang bagaimana rutinitas latihan yang dijalaninya bersama Juventus. Dia juga membandingkan bagaimana latihan berbeda yang dia terima ketika dia berada di klub sebelumnya. Namun, kerja keras dalam latihan hingga saat ini juga telah menghasilkan sebuah penghargaan The Young Italy Talents of The Future 2012.

"Latihannya sangat berbeda jika dibandingkan dengan klub saya terdahulu, terkadang latihannya sangat berat dan terkadang tidak terlalu berat. Kami berlatih setiap hari, hanya pada hari Senin dan terkadang Sabtu kami memiliki waktu istirahat," kisah pemain yang mengidolakan kiper hebat Gianluigi Buffon ini.

Meski begitu, Emil mengaku tidak melupakan keindahan Indonesia, terlebih tempat dia tinggal dulu memiliki pantai-pantai yang indah. Bahkan suatu saat bukan tak mungkin dia bisa mengunjungi tanah kelahirannya itu.

Emilio Audero Mulyadi
 juga mengungkapkan "Saya sangat menyukai pantai-pantai yang ada di Indonesia dan berselancar di sana, Pantai Selong Belanak menjadi favorit saya, karena sangat indah,"

profil :
Nama Lengkap : Emilio Audero Mulyadi

Lahir : Mataram, 18 Januari 1997

Posisi : Kiper

Klub junior :
Juventus U17

Timnas :
Italia U15

Kamis, 03 Januari 2013

Pasar Cendrawasih Kota Metro Terbakar

Masih segar di ingatan, kebakaran besar yang melahap seratusan kios di sekitar Pasar Cendrawasih 8 Desember lalu, kali ini sejumlah ruko, terutama di bagian lantai dua Pasar Kopindo Kota Metro hangus dilalap api.



Tidak ada korban jiwa, namun sedikitnya 30 ruko yang berjajar di Jalan Agus Salim tersebut dijilat si jago merah. Beberapa saksi mata mengatakan, kebakaran mulai terjadi sekitar Pukul 19.00 WIB. Api diduga bersumber dari salah satu ruko yang ada di sana.

Api kemudian merembet dengan cepat ke ruko-ruko yang yang lain. Tim pemadam kebakaran langsung datang ke lokasi kejadian untuk mencegah api terus menyebar.

Mobil damkar datang silih berganti dan menyemprotkan air ke ruko yang masih dilalap api. Kebakaran besar ini membuat ratusan warga mendatangi lokasi kejadian.

Warga berjejal memadati ruas jalan untuk menyaksikan upaya petugas damkar memadamkan api. Banyaknya warga yang menonton membuat mobil pemadam kebakaran kesulitan berlalu lalang.

Kamis, 27 Desember 2012

Video Highlights Manchester United Vs Newcastle United 26 Desember 2012

Manchester United came from behind three times to earn a vital 4-3 Premier League win against Newcastle in a Boxing Day cracker at Old Trafford.











James Perch gave the visitors a shock early lead but Sir Alex Ferguson's side were level against the run of play through Jonny Evans midway through the first half. Evans then put the ball in his own in net, in a goal surrounded by controversy, before Patrice Evra once more got United on level terms shortly after the break.

Papiss Cisse put the Magpies ahead for the third time in the second half, just moments before Robin van Persie found a third equaliser for the hosts. Finally, Chicharito, who had spurned a number of chances, dramatically gave United the lead right at the death.

Sir Alex made five changes to the side which drew at Swansea, with Wayne Rooney the most notable absentee. Chicharito, Phil Jones, Nemanja Vidic, Paul Scholes and Ryan Giggs all returned to the starting line-up.

Alan Pardew, meanwhile, replaced the suspended Cheikh Tiote with Gael Bigirimana, while Sylvain Marveaux came in for Jonas Gutierrez in the only other change.

The visitors looked up for it early on and found themselves ahead inside four minutes. Michael Carrick's miscontrol in midfield allowed Demba Ba to fire a speculative shot at David de Gea and the United shot-stopper could only push the striker's effort into the path of Perch, who tapped home his first ever Premier League goal.

Newcastle continued their bright start, with Cisse and Ba keeping the United's defence on their toes. Fabricio Coloccini nearly doubled their lead after 20 minutes when he nearly looped a header over De Gea, while the hosts failed to even register a meaningful effort on goal.

But the equaliser, against the run of play,
eventually came five minutes later when Evans bundled the ball in from six yards after Tim Krul had originally done well to keep out Chicharito from close range.

United were only level for a matter of moments as the Magpies regained the lead four minutes later with a highly controversial goal. Danny Simpson had his shot deflected into his own net by Evans but it was disallowed for offside, with Cisse judged to have been in an active position. However, referee Mike Dean reversed the decision after consulting with his assistant.

It could have been even worse for United going in at half-time, Marveaux rattling the crossbar just before the break with a superbly struck left-footed free kick.

Newcastle were on top at the beginning of the second period, too, but were again pegged back in the 58th minute as Evra drove home United's first shot of the half. Krul could have done better as the defender's shot crept past him from the edge of the area.

The visitors again took the lead, though, this time via an emphatic finish from Cisse after fine work on the left flank from Gabriel Obertan. Amazingly, United were straight back in it two minutes later; Van Persie drawing a good save from Krul before turning in the ball in at the second time of asking.

It was all United for the last quarter of the game as they desperately piled forward in search of a winner. Van Persie and Chicharito spurned numerous chances, with the Mexican coming closest with a header of the post.

In a frantic final few minutes both sides could have snatched all three points. Sammy Ameobi did brilliantly after coming on to hold the ball up and beat De Gea with a controlled low effort, but saw his shot come back of the foot of the post. Chicharito, meanwhile, once again wasted a golden chance with a close range header hit directly at Krul.

But the Mexican was not to be denied for much longer, Carrick's excellently chipped ball finding Chicharito in the box and he slid home United's winner in injury time.